Family

Hanya Kami Bertiga – Pengalaman Melahirkan Anak di York, Inggris UK

Jauh dari orang tua dan mertua, tidak membuat saya dan suami gentar saat menunggu kelahiran anak pertama.

Saat ini kami tinggal di kota York, Inggris United Kingdom. 9600 mil dari Surabaya! Wow! Dan atas keinginan yang mandiri dan agak nekat, kami memutuskan untuk merawat anak kami without any help on the first days. Maksudnya help tuh bantuan dari keluarga ya.. Karena sangat biasa dan normal sekali kalau saya melahirkan di Surabaya, mendapat bantuan dari mama papa, adik-adik, emak, pembantu, suster dan lainnya termasuk keluarga suami. Tapi disini saya hanya bisa mengandalkan diri sendiri dan S-U-A-M-I. 

Ohya, sebenarnya sangat mungkin sekali menghadirkan mereka-mereka yang bisa memberikan sedikit kelegaan buat kami. Tapi kami punya segudang pertimbangan. Salah satu yang menarik adalah mau nyobain gaya hidupnya parent local, meskipun ini bukan coba-coba ya!, yang mereka kebanyakan juga merawat anak on their first days juga without any help. Dan sepertinya mereka baik-baik dan bisa aja. Jadi kenapa nggak kami coba?

So, I started everything with internet (of course). Mulai muncul tanda kehamilan, aku tahu banyak hal di website, forum dan blog. Nggak lupa aku cocokan tulisan yang sudah berbahasa indonesia ke statement-statementnya pihak yang terpercaya seperti National Health Service (NHS) UK atau American Academy of Pediatrics atau Baby Centre. Karena aku pernah kerja sebagai copywriter, jadi tahu kadang-kadang ada beberapa tulisan yang cuma di translate ke Bahasa Indonesia aja, tanpa tahu konteksnya. Kudu teliti banget kalau bacain yang gitu tuh.

Dari situ aku nemu apps yang berguna dan membantu banget. Sprout Pregnancy salah satunya. Apps ini ngasih tau perkembangan si bayi, tracking weight sampe timer untuk ngitung kontraksi juga ada dan interfacenya bagus. Tiap hari juga ada bacaan baru. Jadi seru banget, kayak ada yang ngasih tahu terus.

Udah selesai menjelajah internet, waktu itu aku mikir kalau butuh yang lebih terorganize deh. Karena kalau baca dari internet nggak ada strukturnya, suka lompat-lompat topiknya. Akhirnya pada saat itu ketemu dengan berbagai sponsored magazine yang ngasih banyak sekali tips-tips kehamilan, progress week by week dan dapat banyak sekali sample produk-produk untuk mum and baby. Seneng sih, tapi yah kudu subscribe ke marketing listnya.

Ada satu titik dimana akhirnya aku merasa kalau kehamilan ini makin serius. Jadi akhirnya lari deh ke buku! The real one ya ini, bukan virtually and sponsored. So, aku minta suami untuk meminjamkan buku-buku di perpustakaan. Waktu itu sempat tertarik dengan active birth, jadi baca buku Active Birth by Janet Balaskas. Buku ini membahas metode alamiah, natural dan nyaman karena dilakukan berdasarkan insting ibu. Si ibu actively managed her body saat melahirka, bukan jadi seorang yang pasif dan jadi objek intervensi. Saya pengen banget ngelahirin normal tanpa pakai obat-obatan. Jadi bacaan ini cocok banget untuk jadi referensi waktu itu. 

Lalu ada buku satu lagi, favorit ibu-ibu nih. Saya dapat rekomendasi dan dipinjami salah satu ibu yang melahirkan di York juga. Bisa baca blog dia disiniThe Secret of Baby Whisperer judulnya. 

Buku ini membahas tentang bayinya, bukan kehamilan. Penting banget nyari bacaan tentamg bayi sebelum dia lahir, karena setelah lahir ga bakal ada quiet and peaceful time untuk mendalami topiknya satu persatu. Bayangin aja ada arti tangisan bayi, kalau nggak dipelajari sebelum lahiran, bisa panik! Ingat, nggak ada orang tua dan mertua ya. Jadi nggak ada yang pengalaman di rumah kami. Jadi kalau anak kami nangis semalaman, wajib siap fisik dan mental.

Persiapan mandiri checked! Nah sekarang dari Midwife, Clinic dan Hospitalnya. Puji Tuhan untuk bantuan medis disini sangat baik. Mereka juga sepertinya sudah terbiasa dengan para orangtua-orangtua mandiri. Contohnya mereka sudah membuat website khusus untuk informasi kehamilan dan persiapan melahirkan. Semuanya disusun runtut dan mudah diakses. Jadi saat datang ke pertemuan midwife, ibu-ibu hamil bisa prepare lebih dulu, kalau ada pertanyaan bisa didiskusikan lebih lanjut. Supaya tidak perlu berlama-lama menjelaskan dari awal dan supaya tiap ibu hamil informasinya dari sumber yang sama. Tidak ada perbedaan. Begitu juga setelah si midwife menjelaskan sesuatu, dia akan memberikan leaflet atau booklet tentang hal tersebut. Penting banget ini untuk ibu hamil yang kadang pikun (ini karena hormon, sumpah!). Leafletnya bisa dibaca lagi di rumah, biar ngga lupa. Alhasil saya punya banyak banget leaflet dari midwife. Lumayan lah jadi banyak bacaan dan jadi paham detil.

Satu hal yang membuat kami lega adalah setelah melahirkan new mum dan new dad ini nggak dilepas gitu aja. Midwife akan mendampingi selama beberapa hari, saya sampai 2 minggu. Hari pertama saya pulang ke rumah (usia bayi 3 hari) seorang midwife datang berkunjung untuk mengecek keadaan saya dan bayi, termasuk membawakan timbangan berat badan bayi, mengajari cara mensteril peralatan untuk bayi, dan bukan hanya keadaan fisik saja, tapi juga bagaimana perasaan saya. Mereka concern sekali dengan Baby Blues, ehem iya ini banyak terjadi di orang tua baru.. dan mandiri.. dan nekat… Dia juga sangat memperhatikan tentang how I breastfeed my baby. Penting banget!

Support medis di Inggris sangat menolong sekali untuk saya dan suami. Kami juga tidak perlu memusingkan masalah biaya karena memiliki asuransi kesehatan. Jadi diskusi tentang pertimbangan melakukan sesuatu karena alasan keuangan sudah dicoret dari to-do-list kami. 

Support yang kami dapat dari Inggris lainnya adalah Health Visitor yang akan mendampingi anak hingga usia 5 tahun. Supportnya diberikan lebih mengarah ke parenting, bukan spesifik ke medis dan kesehatan. Health visitor akan secara rutin melakukan review pada anak, misalnya saat anak kami menginjak usia 1 tahun salah satu dari mereka berkunjung ke rumah untuk melihat perkembangannya. Mulai dari menimbang berat badan sampai bertanya: Sesuai dengan grafik nggak? Kemampuan apa yang sudah dimiliki? Tidurnya bagaimana?. Semua didiskusikan tanpa ada kesan intimidasi dan sangat solutif.

Para health visitor bekerja di Children Centre, semacam pusat health and wellbeing untuk anak usia 0 sampai 5 tahun. Children Centre ini tempat utama bagi ibu-ibu yang perlu bantuan non-medis, misalnya tentang sleeping habit, healthy eating, baby and family activity sampai mereka akan bantu kalau ada ibu-ibu yang stres menghadapi anak.

Terakhir, support yang paling penting adalah tetap berkomunikasi dengan orangtua dan mertua. Mereka wajib diberitahu kondisi anak-anak dan cucunya kan? Tentu minta dukungan, saran dan doa. Tidak terhitung lagi berapa banyak balloon chat yang saya kirimkan, berapa lama waktu yang dihabiskan untuk video call untuk bertanya pengalaman mereka saat membesarkan anak-anaknya. Maklum, keluarga saya dan suami sama-sama keluarga besar. Anaknya banyak. Jadi orangtua dan mertua sudah pasti expert!

Sekian.

Lia.

Nb: saat blog post ini diposting, kami sudah survived for the first year in taking care the baby, doing housework, working dan STUDYING 🙂 So happy!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s