Pregnancy

My Birth Story – Detik-detik Melahirkan Anak di York UK

Post yang sudah lama ngendon di draft akhirnya terposting juga. Ragu banget pas harus nulis dan ngpost pengalaman ini, melahirkan anak pertama di kota York, United Kingdom (Britania Raya). Semoga bermanfaat 🙂

Memasuki usia kehamilan 36 minggu, rasanya ibu hamil yang berat badannya sudah naik 20 kilogram ini diberondong excitement yang luar biasa. “Hari ini nggak ya?”, rasanya kalimat itu yang selalu muncul di kepalaku. Aku sampai berpikir kalo masa-masa ini adalah the slowest days in my life.

140805939-42fbec79-2745-4ec9-8ce2-6025451ca18b

Setiap hari tetap kujalani aktivitas seperti biasa, ditambah dengan jalan kaki lebih panjang dan squat! Wohooo… Padahal sebelumnya boro-boro mau squat, yang ada makan terus. Ehmm kalo ini sekaligus menjaga supaya posisi bayi tetap dibawah setelah menjalani proses ECV demi kepentingan lahiran normal

Disini memang dianjurkan untuk natural birth (lahiran normal), bukan seperti di Indonesia yang bisa milih normal atau c-section dengan bebas. Jikalau memang si ibu mau c-section harus ada alasan yang kuat, misalnya alasan medis atau traumatis. Saya sih oke oke saja dengan hal ini, karena memang dari awal pengen lahiran normal yang katanya recoverynya lebih cepat. Bisa langsung beraktivitas, cocok deh untuk kami yang bakalan hanya bertiga.

Ceritanya bermulai di hari Sabtu, hari yang cerah di musim semi kota York. Setelah pulang untuk melakukan belanja singkat, yang ternyata menjadi belanja terakhirku, sore itu aku merasa perut mulai sakit. Pikirku ini hanya Braxton Hicks Contraction, kontraksi palsu untuk menyiapkan tubuh pada kelahiran. Tapi beberapa waktu berselang sakitnya tidak kunjung selesai. Dari range 1-10, sakitnya baru di angka 2. Hampir mirip dengan kram saat menstruasi rasa sakitnya. Kuberi tahu suami, dan langsung tanpa babibu ternyata dia pulang ke rumah seketika. Katanya mau melanjutkan pekerjaan di rumah saja. Oke.

Lama kelamaan aku baru tersadar, ada kemungkinan ini sakit kontraksi. Padahal aku bahkan belum menanyakan hal ini ke midwifeku. Kontraksi itu seperti apa? Seperti biasa, akhirnya aku baca di forum-forum kehamilan. Hasilnya, cocok!

Tanpa perlu lama lagi aku hitung betul-betul tiap datangnya kontraksi lewat Sprout, apps smartphone  yang sudah kupakai dari trimester satu. Semakin lama intervalnya semakin panjang dan intens.

20 menit sebelum jam 21.00, aku minta tolong suami untuk memasang perlak di kasur dengan ketawa-ketiwi, antara senang dan panik. Siapa tahu aja kalau air ketubanku pecah di atas kasur kan? Siapa tahu si bayi mau lahir hari ini? Siapa tahu ini kontraksi betulan. Betul saja tepat pukul 21.00, terdengar suara ‘pop’ seperti balon meletus, dan basahlah semua kasur yang sudah beralaskan perlak itu. Untung!

Oh akhirnya datang juga hari ini! Rasanya campur aduk, tapi jelasnya antara panik dan senang. Segera suami menelepon bagian kelahiran di York Hospital, mereka menyuruh kami datang untuk pemeriksaan. Kami naik taxi, membawa segala perlengkapan, hospital bag dan car seat untuk membawa si bayi pulang.

Dengan hati dan rupa yang girang, kami sampai di York Hospital. Raut wajahku tidak seperti kesakitan, atau bahkan tidak seperti orang yang akan melahirkan. Seakan-akan aku lupa sakitnya kontraksi.

Setelah selesai dilakukan contraction stress test, salah satu midwife menganjurkan kami untuk kembali pulang ke rumah untuk menunggu pembukaan. Yang bahkan dia tidak mengecek pembukaanku saat itu sama sekali. Jika tidak terjadi apa-apa hingga pukul 15.00, kami wajib lapor. Mendengar hal ini, jadi langsung sedih, aku menangis di depan midwife tersebut. Belum jelas kenapa aku menangis, mungkin dalam hatiku: aku harus pulang lagi? Jadi bukan hari ini aku akan bertemu dengan anakku? Bagaimana aku melewati rasa sakit ini di rumah? Ah tiba-tiba rasanya aku langsung bisa merasakan kontraksi lagi.

Singkatnya, sampai di rumah sakitnya makin hebat. Tentu tidak bisa tidur, padahal harus banyak istirahat untuk menyiapkan diri pushing the baby out!! Mau apa-apa susah, makan nggak nafsu, tidur salah, duduk salah, semua salah pokoknya. Paling lumayan berada di posisi on all four, seperti merangkak sambil goyang maju mundur. Atau leaning on chair dengan posisi duduk menghadap sandaran kursi. Paling tidak aku ingat 2 posisi itu yang kupelajari dari buku Active Birth by Janet Balaskas dan dari kelas fisioterapi yang aku ikuti.


Hari Minggu jam 9.00: aku merasa sudah tidak kuat lagi menahan nikmatnya kontraksi ini. Padahal baru jam 9, katanya sih anak pertama pasti bukaannya lama, bisa berhari-hari bahkan. Itu hal yang banyak aku temukan di birth storynya orang-orang di Instagram.

Akhirnya suami menelepon midwife York Hospital lagi, dan mereka mencoba ngetest ibu-ibu yang sedang kontraksi parah ini. Dia mengajakku bicara, pikirku ngapain juga sih, udah sakit, nggak bisa ngomong tau! Ternyata baru kuketahui setelah melahirkan, itu salah satu cara mereka ngtest kontraksinya seberapa parah lewat telepon. Kalau sampai nggak bisa ngomong lagi, bisa jadi sudah waktunya ke rumah sakit.

Sampai di York Hospital, masih contraction stress test lagi dan lama banget. Aku merasa dilama-lamain karena nggak kelihatan aku bakal melahirkan dalam waktu dekat. Duh.. Betulan ternyata waktu dicek pembukaan, ternyata baru pembukaan 3. Baru pembukaan 3 aja sakitnya sudah luar biasa. Nggak terhitung berapa kali harus meremas tangan suami disana, sambil dia menenangkan aku. Dan bantal yang ada di hospital udah hampir robek kayaknya, karena aku gigit-gigit. Bener-bener deh sakitnya. Not to mention bahasa inggris yang campur aduk, dan lebih pilih suami yang menerjemahkannya hahaha.

Karena sudah lihat aku kesakitan, salah satu midwife menawarkan aku pain killer. Nah yang aku dari awal kekeuh mau melahirkan tanpa pain killer akhirnya goyah juga. Pokoknya buka epidural ya, karena aku melihat banyak sisi negatifnya daripada positifnya. Yang penasaran silahkan cari tahu sendiri. Akhirnya aku pakai Entonox (Gas & Air) yaitu pain killer dengan cara dihirup, dengan media seperti selang. Isinya Oksigen dan Nitrous Oxide. Setelah pakai Entonox, sebenarnya rasa sakitnya masih ada, cuma merasa jadi lebih calm aja, agak pusing dan hauuuuss banget karena tenggorokan jadi kering setelah menghirup gasnya itu. Yang mau baca tentang Entonox bisa disini.

Entonox aja ternyata belum cukup bagiku. Akhirnya aku diberi saran untuk pakai Meptid, nggak lupa dia juga menjelaskan bla bla bla sambil membawa brosurnya. Jadilah bagian suami yang membaca. Sambil aku cepat-cepat mengiyakan untuk segera disuntik Meptid. Meptid ini tidak seberapa terkenal di UK karena efeknya kurang powerful kali ya.. Beberapa menit setelahnya, aku merasa agak mengantuk, boleh dibilang agak fly karena seperti tidak sadar. Rasa sakit masih terasa, tapi tubuhku memilih untuk santai, tidak menggerutu sambil mata terpejam. Baguslah.

Sekitar jam 12.00, aku merasa ada keinginan dari tubuhku sendiri untuk pushing. Alamiah sekali rasanya. Meski masih dibawah pengaruh meptid, aku masih bisa merasakannya. Dan ternyata juga ada darah yang keluar dari jalur lahir. Saat dicek lagi pembukaan, si midwifenya kaget karena ternyata sudah pembukaan 8. Wow! Sudah saatnya masuk ke ruang melahirkan.

Betapa senangnya hati ini, ternyata masa menunggu ini akan selesai. Aku akan segera bertemu dengan si bayi ini. Semua pikiran positif rasanya memenuhiku.

Singkat cerita dengan cara yang menurut saya sangat alamiah, tubuhku memberi tanda-tanda untuk melakukan pushing, secara naluriah saya ikuti. Bahkan tidak perlu diaba-aba; aku benar-benar bisa merasakan dia mencari jalan lahir; tidak merasa terintervensi, dalam ruangan yang tenang (hanya ada suami dan 2 orang midwife: Lindsay & Sophie), dan tidak pakai teriak-teriak seperti di film-film……  Lahirlah anak pertama kami pada jam 13.45 dengan sehat dan selamat. Bahagia sekali rasanya, terbayarkan sudah perjuangan ibu (dan juga ayah) baru ini.

They gave her straight to me and she never left our side….

Kami langsung melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dan skin to skin. Ternyata bisa lho dia mencari sumber makanannya sendiri, benar-benar naluri makhluk hidup yah. Selanjutnya akan saya ceritakan di post tersendiri tentang breastfeeding.

Setelah proses lahiran bayi dan plasenta yang puji Tuhan lancar saya langsung jalan ke kamar mandi untuk bersih-bersih dan dress up untuk langsung menjadi mama! Langsung, nggak pake lama. Di York Hospital dan seluruh United Kingdom tidak ada kamar bayi seperti di Indonesia, yang bayinya bakal dijaga sama suster rumah sakit. Ibu dan bayinya tidak bakal terpisah, selalu di dalam satu ruangan, dekat, nyaman dan aman.

Setelah menginap semalam di York Hospital, kami diperbolehkan pulang di hari kedua. Tidak perlu berlama-lama di rumah sakit. Dan rasanya memang di rumah lebih leluasa. Hanya kami bertiga: saya, suami dan anak kami.

Sekian.

Lia.

SaveSaveSaveSave

Advertisements

2 thoughts on “My Birth Story – Detik-detik Melahirkan Anak di York UK

  1. Aku sukaaaaaaaa!
    Seriussss bacanya asyik bgt daaann luar biasa melahirkan di UK ya, di Indo Ibu harus berjuang utk lahiran natural minim intervensi…mknya pas lahiran anak ke-2 aku ke bidan dkt rmh aja , itupun pas udh mau bukaan byk krn agak gak suka di RS t4 melahirkan anak pertama yg walo normal tp kudu pake selang oksigen, infus dsb.
    Nice share mami jolive 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s