Mum & Baby

Review Pebble Time Smartwatch, Wearable Gadget for a New Mum!

Smartphone masih jadi gadget yang utama buatku, tapi smartwatch memang bener ngebantu di saat my hands are full (it happens most of the day!).

Tahun lalu, saat my little J baru lahir, aku memutuskan untuk membeli smartwatch. Tujuannya untuk meminimalisir penggunaan smartphone saat bersama dia, alasan yang pertama supaya lebih intim dan dia nggak kebiasa ngeliat aku pegang smartphone s-e-l-a-l-u. Smartwatch ini juga bakal aku pakai untuk kegiatan sehari-hari yang tidak berkaitan dengan little J, misalnya membaca notifikasi messenger atau social media: karena saat itu aku masih kerja, dan aku kayaknya bakal terbantu kalau bisa liat notifikasi dari smartwatch, kalau yang tidak penting aku nggak perlu buka smartphone jadinya. Terus untuk ngeliat ramalan cuaca (hobi wajib nih), calories and step tracker.

Pilihanku jatuh pada Pebble Time smartwatch, dibeli di Amazon seharga £87 (sekitar 1,6 juta rupiah) pada bulan Juli 2016.

Smartwatch ini menjalankan operating sistemnya sendiri, namanya Pebble OS; aku nggak merasa ada masalah sama sekali dengan OSnya, karena kayaknya aku nggak utak atik yang terlalu gimana. Displaynya always on e-paper colour, bukan LCD yah. Bahannya mostly rubber, memang kelihatan cheap (karena memang cheaper); tapi artinya bahannya lembut dan nggak bikin luka kalo ngeberet (amit-amit) my little J. Untuk mengoperasikannya ada 4 tombol, tidak ada touchscreen sama sekali; menurutku ini menguntungkanku, karena saat aku nggak bisa lihat layar, aku bisa pencet-pencet langsung tombolnya, asal ingat urutan mencetnya.

Untuk mengontrol apa yang tampil di screen smartwatch, perlu aplikasi dari smartphone. Meski Pebble dibuat untuk iOS, tapi masih compatible untuk Android.

Kenapa akhirnya milih Pebble Time? Bukan smartwatch yang lain?

Pebble Time saat itu selalu disebut sebagai penanding Apple Watch versi murah. Fiturnya tidak jauh beda, tapi performanya lebih bagus. Yang paling penting harganya beda jauh ya, Apple Watch bisa sekitar 3 kalinya harga Pebble Time. Tapi kalau tidak melihat harga pun, aku tetap jatuh hati pada Pebble Time, karena lebih cocok dengan keseharian ibu baru plus ibu menyusui.

Tipis dan ukuran layarnya nggak terlalu besar. Cocok untuk tanganku yang kecil. But, this photo is not mine. Sorry 😦

Hal pertama yang paling aku suka dari Pebble Time adalah baterainya awet hingga 7 hari, 7 hari loh! Rata-rata aku ngecharge tiap 5 hari sih. Tapi intinya nggak usah dicharge setiap malam. Bandingkan dengan Apple Watch yang katanya cuma tahan maksimal seharian, atau dikutip dari MacWorld rata-rata cuma bisa 18 jam sehari. Lah kalau gini bisa-bisa ibu baru yang rempongnya amit-amit ini lupa ngecharge.

Kedua, waterproof. Ini puuuuenting juga. Ibu baru pasti nggak terhitung lagi berapa kali nyuci tangan setelah ganti popok, mandiin anak, nyuci piring, mungkin juga nyuci botol susu dan lain lain. Smartwatch lain yang waterproof jaman itu belum banyak ya. Apple watch series 2 yang waterproof belum keluar.

Aplikasi Baby Watch di Pebble Time

Ketiga, bisa nambah aplikasi third party yang didownload lewat aplikasinya yang ada di smartphone. Jadi buanyak banget pilihan aplikasinya. Salah satu yang menurutku berguna adalah Baby Watch. Ada 3 macam pengaturan waktu untuk menunjukan kapan waktu terakhir si bayi ganti popok, minum susu dan tidur. Memang ini sangat simpel dibandingkan dengan Aplikasi Sprout Baby yang aku bahas di post sebelumnya. Tapi di saat kepepet, nggak bisa pegang smartphone, aplikasi smartwatch ini berguna banget.

Keempat, I love their health and sleep tracker! Senang banget kalau tahu kalori yang terbakar hari ini banyak, artinya ibu-ibu yang hidupnya 24/7 for the baby ini at least achieved something. Termasuk juga kalau si Pebble Time ngasih tahu “Good day! You got 5 hours sleep last night!” Yeah baby! Tapi satu yang masih jadi kekurangan Pebble Time, belum ada heart rate trackernya saat aku beli.

Sayangnya… di bulan Desember 2016, beberapa bulan setelah aku beli ini Pebble Time smartwatch ini, Pebble mengumumkan kalau companynya udah berpindah tangan ke Fit Bit, perusahaan wearable technology yang sedang naik daun, terkenal dengan smartwatchnya yang lebih fokus untuk olahraga. Baca blog post Pebble’s Next Step disini. Pebble sendiri dulu awal munculnya di Kickstarter, sebuah crowfunding website. Saat itu projectnya jadi salah satu produk yang mendapatkan uang terbanyak, dalam 1 bulan mereka dapat $10.3 juta. Gila-gilaan. Begitu juga saat pertama kali smartwatchnya dijual di 2013 via Best Buy, langsung ludes dalam waktu 5 hari (sumber: Wikipedia)

Tapi mau tutup atau nggak perusahaannya, mau pakai merk apapun juga, smartwatch memang bener bisa ngebantu di hari-hari awal menjadi seorang ibu baru. Smartwatchku ini sangat terpakai hingga usia J 1 tahun, which is dia sudah nggak sering minum susu, tidur siang cuma sekali dan pas lagi spring-summer; jadi nggak perlu sesering pas winter ngeliat ramalan cuacanya. Satu lagi, karena sekarang sudah nggak kerja; ngeliat notif smartphone udah nggak sepenting dulu deh.

Sekian.

Lia.

Most of the images from Mashable. Maaf tidak bisa taking photo yang representatif at the moment :p

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s