Mum & Baby

My Breastfeeding Story: Perjuangan Ibu Menyusui


Ternyata masih ada yang lebih serem dari lahiran normal, MENYUSUI namanya! Selama 2 bulan pertama, cuma ini yang ada dipikiranku. Perjuangan menyusui ternyata butuh lebih banyak tenaga dan waktu kalau dibandingin lahiran yang total sakitnya paling cuma 24 jam.

Masalah yang aku dapat dari menyusui adalah sore & cracked nipple dan pegel-pegel, cuma itu aja sih benernya. Tiap nyusuin rasanya perih banget sampe kadang harus menitikkan air mata, menangis dalam diam, nggak pengen little J tau. Apalagi tiap tau kalau jam menyusui udah dekat, duh parno dan drama abis pokoknya, pengen nangis! Arg… Terus ditambah lagi dengan supply ASI yang belum stabil, jadi setiap nyusuin selalu nyemprot, mengalir (bukan netes lagi) ASInya kemana-mana. Berantakan banget pokoknya. Bete banget, udah susah, pegel banget dari leher ke punggung belakang karena cara duduk yang salah dan nggak sadar kalau itu penting. Terus belum selesai nyusuin kudu dikompres supaya cepet sembuh lecetnya. Dikompres air dingin nggak enak, kalau air panas malah keluar lagi susunya. Aduhh… Seneng sihnya kalau susunya banjir, biar kayak ibu-ibu di Instagram. Tapi gak gini juga 😦

Emang dasarnya aku suka ngeluh, tapi aku masih punya tekad yang kuat kok untuk ngasih yang terbaik untuk my little J. Semoga tetap mau membaca, abis ini aku nulis yang baik-baik kok, nggak ngeluh lagi haha.

Menyusui lebih mudah di bulan ke-3

Aku nggak bilang kalau drama puting lecet karena menyusui sudah selesai. Tapi perjuangan ibu menyusui di bulan ke-3 sudah lebih mudah, sudah ketemu iramanya dan sepertinya sudah terbiasa dengan rasa sakit (masih sakit sumpah deh).

Aku juga sebenarnya nggak tau lho kenapa kok bisa sakit. Karena my little J sudah bisa latch on dengan baik dari Inisiasi Menyusui Dini. ASIku juga keluar sesuai perkiraan, kolustrum di 1-2 hari awal, dan ASI di hari ketiga. Dugaanku karena saat di rumah aku nggak konsisten dengan posisi dan postur menyusui. Kata orang-orang emang wajar sih kalau sakit di bulan-bulan awal, karena kulit di puting itu kan tipis dan sensitif. Bayangin aja tiba-tiba dia harus kerja keras dihisap terus. Pasti lecet kan, lah kulit kita aja kalau kegesek-gesek benda lain aja sakit kok. Jadi sakitnya masih masuk akal lah ya menurutku, nggak parah-parah banget. Ini pemikiran yang cukup menghibur waktu lalu.

Rasanya agak sedih gitu, karena nggak tau mau cari info kemana. Kalau tanya orang lain, pasti bilang sakit juga. Dan wajar banget kalau puting sakit pas menyusui. Bahkan aku juga dapat cerita tentang plugged ducts, mastitis (pernah kena 2 kali) dan lain-lain, pokoknya masalah menyusui yang lebih parah daripada yang aku hadapi. Cara lainku adalah cari cerita pengalaman busui-busui yang lain, disini ibu-ibu warga Inggris suka sharing lewat grup Facebook para ibu dan forum-forum online. Dari cerita-cerita inilah akhirnya aku mulai sadar bahwa menyusui butuh proses, nggak ada yang gampang. Kudu dinikmatin, karena ini momen yang nggak akan berlangsung lama. Paling lama 2 tahun (dengan sakit yang cuma 1-2 bulan aja) bisa nyusuin anak kita, abis itu dia bakal lebih independen, udah nggak butuh susu mama lagi.

Rasanya cuma foto ini satu-satunya foto menyusui yang layak diposting. Saat si little J umur 7 bulan, musim dingin di London. Breastfeeding di theme park brrrr….

I love breastfeeding! Menyusui adalah momen terindah bersama anak.

Boleh dibilang menyusui menjadikanku semakin ‘IBU’. Semakin punya insting dan feeling keibuan. Saat pertama kali ketemu my little J masih nggak percaya lho kalau sudah jadi Ibu, punya anak. Tapi setelah melewati banyak hari, melewati banyak aktivitas termasuk yang paling puenting adalah menyusui, aku makin pede lahir batin kalau aku bener-bener jadi seorang ibu.

Bonding antara ibu dan anak selama dan karena menyusui juga sepertinya sangat kuat, saya bilang ‘sepertinya’ karena saya belum pernah coba formula feeding, jadi nggak bisa membandingkan. Tapi betul kalau saya sudah merasakan menyusui adalah momen terindah setelah melewati bulan kedua. Tujuan utama menyusui mungkin hanya untuk memenuhi kebutuhan fisik bayi saja, tetapi saat kulit bertemu kulit, dia merasa puas, saya merasa tenang, rasa cemas langsung hilang, seketika kami sudah ada di suasana yang berbeda, rasanya ada ikatan yang begitu kuat. Seperti berkomunikasi tanpa harus berbicara. Belum pernah rasanya aku merasakan hubungan antar manusia yang lebih kuat lewat cara selain breastfeeding. Kalau boleh aku memutar waktu, aku akan melakukan persiapan lebih baik untuk 2 bulan pertama, supaya aku tidak terlambat merasakan rasa ini.

Sekarang, saat blog post ini ditulis, my little J usianya sudah 14 bulan dan saya masih menyusui. Bersyukur sekali karena dia masih aktif menyusu. Menyusui malah menjadi aktivitas yang penting untuk menenangkan diri kami berdua. Saat saya mulai agak tidak bisa mengontrol emosi saya, dan dia minta susu, saya akan merasa lebih tenang, damai rasanya karena kami saling terkoneksi. Apapun kondisinya.

Awalnya saya sempat terpikir untuk berhenti setelah usia 1 tahun, tapi rasanya kami masih nyaman. Tidak ingin ini segera berakhir. Semoga saya bisa menyapih dengan alami, tidak dipaksa, dan atas kehendaknya sendiri.

Persiapan menyusui

Kalau diingat-ingat, saya sempat khawatir bukan main sebelum melahirkan. Takut susu nggak keluar lah, takut nggak cukup lah, takut susunya nggak ada gizinya lah dan lain-lainnya. Apalagi saya merasa seumur hidup saya selalu kurus (kecuali pas hamil ya, karena udah + 20 kg hahaha), jadinya saya merasa agak kekurangan gizi meskipun saya bukan orang yang sakit-sakitan.

Tapi apapun itu, saya tetap bertekad bulat untuk ngasih ASI, tidak menggunakan susu formula sama sekali. Karena saya sudah banyak baca tentang bagusnya breastfeeding. saya pun nggak beli botol susu dan susu formula sama sekali. Jadi nggak ada yang namanya ‘just in case’ atau ‘jaga-jaga’.

Terakhir, saya mau share beberapa hal yang saya pelajari di trimester akhir kehamilan, dan menurut saya mendasari semuanya. Karena ini penting banget buat diketahui ibu-ibu pembaca lainnya. Singkatnya supaya lebih pede dalam menyusui.

  1. Nggak perlu khawatir kalau nggak ada ASI yang merembes saat hamil di minggu-minggu terakhir. Karena nggak ada hubungannya dengan ASI banyak atau nggak.
  2. Nggak usah khawatir kalau hari pertama sampai ketiga ASI belum keluar. Karena di hari pertama yang bakal keluar adalah kolustrum, cairan spesial ini meskipun sedikit, tapi bergizi banget, kaya protein dan memperkuat sistem imun bayi. Lambung bayi cuma segede buah cherry di hari pertama, alias cuma muat satu sendok makan aja (sekitar 5-7ml). Seiring berjalannya waktu lambungnya bakal membesar dan supply ASI juga bakal makin banyak.
  3. Supaya memperbanyak supply harus sering disusuin terus, paling nggak 2 jam sekali di hari-hari pertama. Kalau bayinya bobok terus, bangunin! ASI tuh Karena semakin sering dihisap, tubuh busui akan memproduksi lebih banyak asi. Ingat hukum supply and demand ekonomi aja.
  4. Selama menyusui nggak perlu takut makan ini-itu, asal dalam batas wajar. Jangan sampai kepedesan buanget misalnya. Kata midwifeku dulu, lebih baik kita membiasakan rasa dan nutrisi makanan yang biasa kita makan ke anak kita lewat ASI.
  5. Paling penting! Menyusui itu pakai pikiran, bukan pakai payudara saja. Payudara cuma jadi medianya saja. Tapi yang mengontrol supply air susu adalah otak manusia lewat produksi hormon oksitosin. Hormon yang diproduksi tubuh saat kita sedang bahagia. Jadi, busui kudu bahagia terus. Disinilah suami diperlukan untuk busui dan anak ASI 🙂

Blog post ini ditulis di International Breastfeeding Week.

Selamat mengASIhi.

Sekian.

Lia.

    Advertisements

    One thought on “My Breastfeeding Story: Perjuangan Ibu Menyusui

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s