Mum & Baby

Our Baby Led Weaning Story, Metode Baru (Populer) Penuh Manfaat

“Nggak keselek ta anakmu itu?”

“Kok gitu sih ngasih makannya?!”

“Iso ta ngunyah, wong ga punya gigi?!!”

Kira-kira ini beberapa celotehan yang bakal didengar para ibu-ibu yang menjalankan Baby Led Weaning untuk anaknya. Kayaknya memang belum biasa orang-orang ngeliat anak kecil belajar makan dengan cara makan sendiri, duduk di highchair, bentuk makanannya finger food, NOT BUBUR NASI! Makanannnya diemut-emut, diremes-remes, dimainin, dilempar, wuh banyak lah pokoknya atraksinya.

Bayi-bayi generasi baru ini memang beda sama generasi bapak ibunya yang pastinya belajar makannya dulu digendong pake jarik, makannya bubur nasi plus sambil keliling kompleks. Jadi kadang ada yang agak susah nerima (dan kudu komen nyinyir) metode yang dipopulerkan suster asal United Kingdom, Gill Rapley satu dekade yang lalu. Tuh benernya udah lama kan. Tapi kalo diliat kayaknya ga masuk akal gitu, nih anak belum punya gigi kok disuruh ngunyah. Beruntunglah di Indonesia buanyak influencer yang mulai mempraktekan metode ini, aku lihat yang paling bener di Andien dan Kawa ya. Karena Baby Led Weaning ini gak boleh asal lho, apalagi buat kita yang ibunya ga pernah BLW-an, pake sendok woi kita dulu. Di Instagram @andienaisyah dia nggak cuman ngposting tingkah Kawa pas makan, tapi dia jelasin loh tentang Baby Led Weaning ini. Dan semua omongannya betul, sesuai dengan yang aku baca di website dan buku asal United Kingdom.

Nah sekarang aku mau ceritain sedikit tentang decision dan pengalaman aku dan si J BLW ya. Karena usia J juga sudah lebih dari 1 tahun, udah makan sendiri pake sendok garpu, nggak banyak atraksi lagi dan aku mulai merasakan manfaatnya. Jadi boleh dong aku share 🙂

Dari awal tahu tentang Baby Led Weaning (BLW), aku udah tertarik banget untuk pake metode ini ke J waktu dia sudah siap makan. Dia bakal makan atas keinginannya sendiri, tidak disuapi, dan langsung makanan padat. No bubur. Alasannya, karena keliatannya simpel nih, nggak ribet. Lama kelamaan setelah mempelajari lebih dalam lewat buku dan website kesayangan dan ngikutin pertemuan orang tua di children centre, makin ketahuan deh kalau ternyata metode ini baik juga buat diterapkan.

Children Centrenya J tidak mengatakan BLW itu metode terbaik, dan juga bukan terburuk. Karena memang nothing is wrong with spoon-feeding. Mereka tidak juga langsung menyarankan metode baru ini. Mereka kasih statement, saat anak mulai belajar makan, yang maksudnya pake metode konvensional spoon-feeding, perlu diselingi dengan finger food. Perpaduan antara spoon-feeding dan Baby Led Weaning jadinya. Ini yang akhirnya aku ikuti. Meski nggak BLW full ternyata aku aku juga bisa ngerasain positifnya BLW, ini beberapa yang utama:

Anak akan belajar makan secara independen, tidak selalu bergantung pada orang tua yang nyuapin dia mulu. Jadinya si anak bisa menentukan phase dan porsi makannya. Ini sama dengan konsep breastfeeding on demand ya, anaknya minta sendiri, lepas sendiri, kalau mau lagi juga ayuk. Jadi paling cocok nerapin BLW ke anak breastfeeding on demand.

Anak akan mempelajari tekstur dan bentuk berbagai makanan from the very first start. Ini untuk menghindari anak yang susah naik tekstur. Tau kan cerita anak nolak makan saat naik tekstur?

Anak akan mikir eating food is fun! Bisa dipegang sendiri stik kentangnya, bisa diemut dulu brokolinya dan bisa dihambur-hamburin juga biji jagungnya. Milih sendiri, megang sendiri, kayak orang gede nggak sih?! Jadi nggak ada tuh yang namanya rewel atau trauma makan, geleng-geleng, adanya dia nolak karena dah tau makanan itu apa. Jadi ibunya kudu jeli juga! Soalnya makanan dia keliatan mata, bukan yang udah dicampur jadi satu menjadi bubur.

Anak BLW lebih cepat memahami aktivitas makan. Karena dia belajar mengunyah terlebih dahulu, lalu ditelan. Beda kalau pake metode spoon-feeding, belajarnya nelan dulu. Menurut aku sih, nelan pasti bisanya, lah udah 6 bulan minum susu kan ditelan tuh susunya. Oh ya jangan heran ya, anak bayi bisa ngunyah lho meskipun belum punya gigi. Asal makanannya yang agak lunak ya. Lain lagi masalah tersedak, manusia dari sekecil mereka sudah dikaruniai gag reflex, bayi BLW tahu kalau makanannya terlalu besar, dan nggak pas dimulut. Mereka akan gagging, semacam dimuntahin secara sengaja, supaya tidak tersedak. Meski begitu, si ibu kudu membekali diri kalau-kalau proses gaggingnya tidak mulus, lalu dia tersedak, si ibu harus responsif kasih pertolongan pertama.

Anak juga belajar mempraktekkan pincer grasp, alias njumput makanan pake jari telunjuk dan jempol. Ini penting lho, masuk dalam development milestone.

Terakhir, ini sisi baik untuk ibunya. Terutama yang nggak ada nanny, sus atau emak ya. Proses belajar makan jadi hemat waktu, tenaga dan uang. Karena langsung aja tuh makanannya dipotong, dimasak dan dihidangkan langsung. Nggak perlu pake baby food maker atau blender-blenderan. Malah bisa disamain dengan makanan ibu bapaknya. Misal nih masak sop, nah potongin aja kentang, wortel dan ayamnya. Kukus, kasih deh.

Masih banyak kebaikan yang lain, tapi menurut saya ini yang utama perlu diketahui oleh ibu-ibu yang mau nyobain BLW.

Saya masih ingat awal-awal rencana mau BLW, banyak yang menebak-nebak sisi negatifnya. Misalnya nih, kadang makanan itu cuma dimain-mainin, nggak dimakan. Terus orang tua nggak tahu berapa banyak makanan yang masuk. Kira-kira nutrisinya gimana tuh? Lalu ternyata BLW juga nggak sesimpel yang dipikirkan karena bakal bikin kotor lantai rumah, baju kotor dan cemong semua anaknya.

Untuk yang pertama, masalah nutrisi, buat saya kalau anaknya masih minum susu gakpapa. Namanya juga belajar makan. Karena nutrisinya masih tercukupi lewat susu. Dia juga lama-lama pinter sendiri dan betulan, mahir deh sekarang dia makannya. Kedua, masalah kotor yaudah sih ya. Punya sabun sama air kan?

Buat yang tertarik nerapin Baby Led Weaning juga. Ada 3 syarat:

  1. Anak kudu udah bisa duduk tegak di highchair.
  2. Anak sudah sudah bisa mengambil dan memegang barang smpe masuk ke mulutnya (Hands, eyes and mouth coordination).
  3. Anak keliatan tertarik sama makanan. Misal selalu pengen ngambil makanan mamanya yang ada di piring.

Sekarang J usianya 16 bulan, selama ini yang aku terapin mostly BLW, sisanya spoon-feeding karena alasan lagi travelling, waktunya nggak banyak dan tempatnya nggak memungkinkan. Hasilnya sekarang makannya buanyak, lahap, dan tau lapar tau kenyang. Bisa minta sendiri, buka kulkas buka kitchen cabinet. Udah lancar pake sendok garpu. Aku anggap ini hasil dari aku nerapin Baby Led Weaning dan nerapin sedikit montessori parenting. Kapan-kapan kalo sudah mantep aku bahas montessorinya ya.

Kira-kira gitu cerita Baby Led Weaning ku dan si J. Kalau mau ikutin nerapin Baby Led Weaning juga, jangan lupa research lagi ke sumber yang terpercaya. Karena blog sosialia bukan ahlinya, anak BLW aja baru satu haha.

Sekian.

Lia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s