Family · Mum & Baby

Berhenti Menyusui: Weaning with Love saat Hamil Kedua

Satu hal yang sempat luput direncanakan saat mempersiapkan kehamilan kedua ini adalah kelanjutan breastfeeding untuk anak pertama kami. Gopoh (buru-buru) dong langsung cari info sebanyak-banyaknya tentang gimana cara menyapih karena takut sebagai ibu nggak bisa mencukupi nutrisi untuk tiga orang sekaligus, untuk si anak pertama, si janin dan untuk diri sendiri. Hal pertama yang aku lakukan adalah tanya Mbah Google. Dan ternyataaaaaaa…….

Sebenarnya ibu hamil yang masih menyusui tidak perlu menyapih anak pertamanya, berlaku jika si bumil dalam keadaan sehat dan bugar. Artinya tidak berasa letih, lemah, dan lesu. Asupan nutrisinya oke.

mother and son holding hands

Lalu saya? Saya sehat dan bugar. Puji tuhan, tidak ada morning sickness (atau all day sickness) seperti saat hamil pertama, tidak ada tuh mual dan muntah. Saya beraktivitas seperti biasa, makan seperti biasa. Semuanya aman terkendali. Paling hanya ngantuk dan capek saja. Tapi tetap saja ada kekhawatiran, cukup nggak yah nutrisiku. Sempat suatu kali dalam beberapa hari saya mengurangi karbohidrat, saya banyakin sayur, buah, dan protein. Maunya supaya tidak cepat kenyang karena karbohidrat, tapi ternyata diet ini nggak cocok untuk saya. Butuh energi banyak untuk mengimbangi si J yg usianya 1 tahun ini. Lalu saya beralih dengan minum vitamin khusus ibu hamil, sebenarnya tidak ada rekomendasi juga dari midwife (bidan) saya. Midwife bilang saya hanya perlu makan seperti biasa, juga tidak perlu ada tambahan kalori di trimester 1. Pokoknya kudu makan sehat dan seimbang. Ada kemungkinan rasa dan kuantitas ASI akan berkurang seiring berjalannya kehamilan.

Setelah mikirin masalah nutrisi, kegalauan saya yang kedua adalah: kalau nggak disapih sekarang, apa saya siap tandem nursing nantinya? Maksudnya menyusui dua anak secara bersamaan. Pertanyaan ini terjawab dengan adanya grup Facebook ibu-ibu lokal, disana mereka sharing tentang tandem breastfeeding. Sangat mungkin sekali hal ini terjadi disini, karena disini anak-anak sangat nempel dengan ibunya. Jelas. Lah babysitter aja jarang, palingan juga support systemnya adalah grandma and grandpa yang kebanyakan tidak satu rumah. Makin nempel sama ibunya, makin susah juga berhenti menyusuinya. Jadi saat punya adik, tandem nursing jadi pilihan. Daripada repot menyapih kan ya?!

Tapi kayaknya saya nggak siap deh kalau harus menyusui 2 anak sekaligus. Kalau terpaksa sih saya bisa-bisain, tapi kalau bisa sih saya nggak mau. Meskipun menyusui adalah momen yang indah, tapi kalau suatu kali saya juga ingin agak bebas. Bebas makan, minum, pakai baju apa saja, dan lainnya. Selain itu sebenarnya target awal saya menyusui adalah hanya sampai usia 1 tahun, dimana setelah umur tersebut nutrisinya bisa digantikan dengan susu sapi segar atau susu alternatif (bukan susu formula ya) dan makanan. Bagi saya kegiatan belajar makan (weaning) yang saya lalui dengan melakukan teknik Baby Led Weaning adalah proses transisi J dari minum ASI (cair) ke makanan padat. Jadi saat melihat perkembangan J di usia 1 tahun yang makannya sudah bisa ngikutin saya dan suami, saya berpikir untuk menyapihnya. Tapi karena beberapa alasan, saya tidak jadi berhenti saat usia J menginjak 1 tahun. tapi saya berusaha untuk mengurangi.

Akhirnya mulailah browsing sana-sini teknik untuk berhenti menyusui. Yang paling menarik bagi saya adalah Weaning with Love, nemunya di artikel, blog post dan socmed postnya orang Indonesia. Belum tau betul asalnya Weaning with Love (WWL) ini dari mana, kalau di artikel dengan bahasa inggris disebut dengan Gentle Weaning. Teknik ini berkebalikan banget dengan jaman dulu atau yang diajarin mama saya yaitu dengan cara memberi sesuatu ke puting, dikasi asem-asem kek, pahit-pahit kek pura-pura rasa ASInya nggak enak lagi, dikasi merah-merah dari lipstik pura-pura sakit putingnya jadi nggak bisa nyusuin lagi. Teknik bohong intinya hahaha.

Ohya, berhenti menyusui menurut saya adalah berhenti menyusu langsung dari payudara. Saya tidak memberi ASIP, jadi bukan menyapih dari payudara ke botol. Dan juga bukan beralih ke susu formula. Saya mau kasih susu sapi segar atau susu alternatif: susu kedelai atau coconut milk, dan lainnya.

Rumus pertama dari Weaning with Love adalah Don’t Offer and Don’Refuse. Jangan menawarkan dan jangan menolak. Mudah dipahami ya. Tapi susah susah gampang melakukannya, karena saya kebiasaan kalau J lagi rewel, saya tawarin aja nyusu untuk wind down. Tapi ini nggak boleh ya, big no no! Nggak boleh nawarin menyusu lagi.

Keadaannya saat itu adalah usia J saat itu 15 bulan, menyusu wajibnya hanya malam hari sebelum tidur. Di tengah malam kadang dia bangun, di tepuk-tepuk aja badannya sudah bisa tidur lagi, tidak perlu menyusu. Kalau siang, sudah nggak perlu menyusu seharusnya karena dia makannnya lahap. Saya bisa gantiin asupan dairynya dengan yogurt, keju atau susu sapi.

Rumus selanjutnya adalah pandai-pandai melihat gerak-gerik dia sebelum minta susu. Misalnya sebelum dia menarik-narik baju atau ndusel-ndusel. Karena kan rumus pertama kita nggak boleh menolak, jadi sebelum ada gerak-gerik itu harus segera dialihkan perhatiannya. Bisa diajak main yang seru, dikasih snack pengganti atau yang lainnya. Pokoknya bikin dia lupa.

Referensi: Kelly Mom dan The Asian Parent

Terakhir, saya sering ajakin dia keluar rumah saat siang hari, karena kalau keluar rumah biasanya dia hampir tidak pernah meminta ASI. Tapi saya harus sediakan snack untuk menggantikan susu.

Lama kelamaan saya  akhirnya terbiasa. Setelah saya benar-benar berhasil mengurangi jadwal tentatif menyusu di siang hari, saya fokus ke agenda menyusui di malam hari. Caranya saya kenyangin dia di makan malam, sehingga secara kebutuhan perut terpenuhi. Saya ajak main sampai capek (dengan bantuan suami ini yah), dan mengajak tidurnya harus di waktu yang pas. Supaya nggak kelamaan goler-goler dan akhirnya inget ASI.

Pada proses ini juga saya dan suami sedang menyiapkan kamar sendiri untuk anak pertama kami lengkap dengan rak baju, rak mainan dan floor bed. Biasanya dia tidur di cot (baby box) yang dihubungkan dengan kasur kami ala co-sleeping. Awalnya saya sempat ragu, apakah bisa ya dia tidur tanpa ASI, lalu di kamar sendiri lagi. Kalau malam-malam bangun gimana? Saya pun juga kadang agak mellow-mellow sendiri gara-gara harus berhenti menyusui.

Ternyata, hari pertama, suami saya mencoba melakukan bedtime routine seperti biasa di kamar baru itu. Dan BERHASIL! Tidur sendiri tanpa ASI, dan dia tidur nyenyak sampai pagi! Nggak pakai bangun-bangun lagi. Sejak saat itu saya makin mantap untuk berhenti menyusui dengan teknik Weaning with Love. Saat itu usia J 16 bulan. Hanya terpaut 1 bulan semenjak saya mengetahui kehamilan dan momen galau berhenti ASI atau nggak. Meski kadang memang kelolosan menyusui di malam hari, akhirnya saya (kami) bisa berhasil! Momen menyusui terakhir adalah tepat satu hari sebelum J berulang bulan yang ke 17 bulan.

Sekian.

Lia.

Advertisements

One thought on “Berhenti Menyusui: Weaning with Love saat Hamil Kedua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s