Pregnancy

Dapat ‘Bonus’ Gestational Diabetes Selama Hamil Anak Kedua

Seumur-umur belum pernah ada yang menyarankan aku untuk diet menguruskan badan, ataupun diet yang hanya untuk menjaga berat badan. Adanya sih disuruh makan banyak dan apa aja. Dari kecil kayaknya emang susah bener naikin berat badan, kecuali pas hamil anak pertama ya, naiknya 20 kilogram hehe. Itu pun diperbolehkan oleh midwife (bidan) untuk makan apa saja, asal tetap menjaga asupan nutrisi utama untuk ibu hamil, karena BMIku sangat rendah. Termasuk di kategori severe underweight.

Nah kali ini, seperti saat hamil J, di usia kehamilan 28 minggu saya kembali dijadwalkan untuk menjalani Glucose Tolerance Test untuk mengetahui bagaimana kinerja insulin dalam tubuh untuk mengontrol kadar gula darah selama kehamilan. Tidak setiap orang diminta untuk melakukan tes ini. Yang perlu melakukan tes ini adalah ibu hamil yang BMInya lebih dari 30 (not me!), pernah melahirkan bayi besar diatas 4,5 kg, pernah terdiagnosa Gestational Diabetes di kehamilan sebelumnya, ada riwayat keluarga yang mengidap diabetes dan berasal ras yang memiliki resiko diabetes lebih tinggi (south asian, middle eastern dan black caribbean descent).

Saat diminta untuk menjalani tes rasanya malas sekali, karena merasa sudah pernah pas hamil J dan hasilnya negatif. Dan kayaknya nggak mungkin lah bumil seperti aku kena diabetes. Tapi ternyata….! Positif Gestational Diabetes!

Sebelum lanjut, fyi dulu. Gestational Diabetes ini adalah tipe diabetes yang muncul saat kehamilan, karena ada perubahan hormon yang mengakibatkan tubuh tidak bisa memproduksi insulin secara normal. Lalu sebenarnya salah siapa ini semua? Salah mamanya? Atau anaknya? Kok bisa mendadak diabetes. Bukan maksudnya mau mencari-cari tapi memang banyak teman dan keluarga yang bertanya, KOK BISA? PASTI KAMU SUKA MAKAN MANIS-MANIS bla bla bla ya? Setelah baca-baca buku, aku menyimpulkan bahwa Gestational Diabetes ini bukan salah siapa-siapa. Itu hanyalah nature tubuh ibu hamil karena perubahan hormon. Mungkin saja pada bumil yang lain perubahan hormon bisa menyebabkan perubahan kinerja tubuh yang lain. Nah kali ini aku kedapatan ‘bonus’ yang ini.

Alat tes gula darah yang diberikan oleh tim diabetes. Selain untuk menelusuri histori kadar gula darah, aku bisa langsung tau makanan mana yang oke dan tidak.

Langkah selanjutnya saat sudah diberiathu bahwa positif, aku harus kembali lagi ke rumah sakit dan menjalani treatment khusus para bumil yang punya gestational diabetes. Saat masuk ke ruangan, langsung dihadapkan dengan satu tim yang menangani para bumil dengan gestational diabetes, yaitu midwife, obgyn, diabetic doctor, diabetic nurse, dietitian. Mulai hari itu kehamilanku akan ditangani oleh tim ini, pertemuannya di rumah sakit dengan alat dan penanganan yang lebih lengkap. Bukan lagi ditangani oleh midwife yang ada di klinik terdekat dari rumah seperti saat hamil J dulu. Istilahnya sudah naik tingkat karena resiko kehamilannya semakin tinggi. Yang biasanya hanya USG 2 kali selama hamil, kali ini jadi 5 kali untuk memantau berat badan bayi.

Jadi bayinya bisa besar ya kalau mamanya diabetes? Betul sekali! Asupan gula ke plasenta bakal berlebihan. Jangan mikir kalau bayi kecil aja yang bermasalah, ternyata bayi besar juga masalah lho. Kalau besar pastinya sulit dilahirkan secara natural. Kemungkinan bakal di induksi, alias dicoba dikeluarkan sebelum waktunya atau harus menjalani c-section yang aku anti banget! Dampak lain dari gestational diabetes adalah; Pertama, Polyhydramnios, air ketuban yang terlalu banyak. Kedua, bayi kuning karena gula darahnya rendah. Jelas saja karena selama ini gula darahnya selalu tinggi, jadi dia nggak bisa regulate gula darahnya secara stabil saat sudah pisah dari plasenta. Ketiga, resiko pre eklampsia meningkat. Keempat, lahir prematur sampai stillbirth. Dan banyakkkk dampak negatif lainnya.

Contoh menu diet gula darah. Plain food dan dalam porsi kecil.
Alternatif makanan rendah gula.

Sejak bertemu dengan tim diabetes tersebut, aku dianjurkan untuk mengikuti diet gula darah. Artinya makanan yang dikonsumsi harus rendah gula, rendah lemak dan wajib memilih makanan yang lebih lambat dicerna supaya gula darahnya nggak langsung naik secara cepat. Menu dietnya benar-benar plain, boring food kalau kata si dokter diabetesnya. Untuk membantu menurunkan kadar gula darah bisa juga dibantu dengan olahraga, tapi buatku mengurus toddler sudah olahraga. So, aku skip bagian ini.

Setiap sebelum dan sesudah makan aku juga diharuskan untuk melakukan tes gula darah sendiri. Minimal 6 kali sehari harus menusuk jari sendiri untuk tes darah. Hasilnya nanti akan dipantau oleh tim diabetes, karena jika nggak bisa dikontrol lewat diet, maka perlu obat-obatan untuk membantu produksi insulin. Tapi puji Tuhan, sampai kehamilan kedua ini berakhir, aku belum perlu obat-obatan.

Setelah menjalani diet gula darah selama 3 bulan ini rasanya saya sangat bersyukur. Untuk pertama kali tau bagaimana cara makan yang sehat. Dan akhirnya sampai terbiasa mengurangi gula. Kalau saja tidak mendapat ‘bonus’ ini pasti sudah makan sembarangan dan pastinya butuh effort lebih untuk kembali ke berat badan ideal setelah melahirkan. Saat ini kami sedang menunggu hari kelahiran “our sugar baby”. Cerita gestational diabetes saat hamil ini pastinya akan berlanjut. Sampai ketemu di blog post selanjutnya!

Sekian.

Lia.

Referensi:
https://www.nhs.uk/conditions/gestational-diabetes/
https://www.gestationaldiabetes.co.uk

 

 

SaveSaveSaveSave

SaveSaveSaveSave

SaveSave

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s