Family · Mum & Baby

Pesan Untuk Para Ibu Yang Akan Menyusui Langsung

Trimester 4 sebagai ibu baru (lagi) akhirnya sudah terlewati. Dua kali mengalami kehamilan dan kelahiran, ada beberapa pesan yang ingin kubagikan untuk ibu-ibu baru lainnya. Kali ini khususnya untuk yang merencanakan menyusui bayinya secara langsung, tanpa menggunakan media botol dan susu formula. Puji Tuhan kami diberikan berkat untuk menyusui dan disusui secara natural, tidak ada masalah serius apapun. Tulisan ini bukan bermaksud mengunggulkan salah satunya, tapi cara inilah yang kupilih dan bisa kubagikan.

Menyusui itu butuh usaha. Bayi minum susu itu bukan asal ngenyot “Mak Ncep” gitu. Belajarlah cara perlekatan (latching) yang bagus dan juga posisi menyusui untuk mendapat hasil yang maksimal, menyusu dengan efisien dan nyaman. Carilah sumber informasi, komunitas dan konsultan laktasi. Siapkan sebelum hari kelahiran. Jadi bukan asal kasi ASI ah, kan gratis tinggal kenyot. Ibu belajar, anak mengikuti belajar juga, ibu yang harus mengarahkan.

Menyusui adalah hal yang natural. Jaman dulu sebelum ada penemuan pompa asi dan botol, tentunya manusia hanya menyusui anaknya secara langsung. Begitu juga dengan mamalia lainnya. Jadi tidak perlu bingung pompa ASI mana yang akan dibeli saat masih hamil, jika berencana menyusui langsung. Jangan buat alasan “jaga-jaga” sebelum mencoba menyusui langsung. Yang ada karena “jaga-jaga” malah kepake karena ada juga akhirnya. Bukankah pompa asi dan botol susu bisa didapatkan di toko bayi pada hari yang sama? Silahkan research sebanyak-banyaknya saat masih hamil tentang pompa asi dan botol susu yang terbaik, ingat-ingat, dan jika nanti diperlukan tinggal minta suami beli di toko.

ASI tidak langsung keluar di hari pertama? Memang begitu, jangan khawatir, itu hal yang normal. Di hari awal kelahiran yang keluar dari payudara ibu adalah kolustrum. Cairan ini sangat penting, penuh nutrisi dan antibodi. Jumlahnya pun sedikit. Bayi hanya perlu ini di hari awal, ukuran lambungnya juga hanya bisa menampung sebanyak satu sendok teh. Kalau ditanya apakah betul aku pernah melihat cairan itu? Tidak, aku tidak pernah dengan sengaja memerahnya karena jika aku perah maka anakku bakal tidak meminumnya, begitu pikirku. Sudah ukuran perutnya kecil, jumlah kolustrum juga sedikit, lalu kalau kebuang kan percuma. Aku percaya dia minum bukan dari melihat, tapi mendengar bunyi “glek glek”, jumlah popok dan berat badan yang terus naik.

Jika ada yang bertanya “apakah ASImu banyak?”. Saya jawab “cukup, bukan banyak”. Karena ASI yang kebanyakan alias oversupply sama buruknya dengan ASI yang kurang (undersupply). Bayangkan jika payudara sudah penuh tapi si bayi belum waktunya minum susu, terjadi begitu berulang kali, akhirnya payudara jadi bengkak dan bisa berujung mastitis. Memberi ASI itu harus ingat hukum ekonomi supply and demand. Kudu pas ya. Kalau salah satunya kelebihan atau kekurangan pasti kewalahan lho buibu.

Perlukah menyetok ASI? 2 tahun lalu masih teringat banyak ibu baru yang menunjukan di media sosial betapa kulkasnya penuh dengan stok ASIP. Kelihatan ASInya lancar dan banyak (ehem, ingat tentang oversupply diatas) ya pastinya. Tapi menurutku memberikan ASI itu harus disesuaikan dengan gaya hidup. Yang terjadi pada kami, saya tidak pernah berencana meninggalkan anak-anak lebih dari rentang waktu menyusu (2 jam saat newborn). Dan saya tidak mampu untuk mengeluarkan waktu dan tenaga untuk memompa, me-manajemen penyimpanan dalam kulkas, mencuci, mensteril botol dan memanaskan ASIP. Sehingga menyetok ASIP bukan pilihan kami. Menyusu langsung adalah cara yang paling cocok dengan gaya hidup saya. Jika ada yang punya gaya hidup berbeda, harus menitipkan anaknya lebih dari rentang jam minum susu tentu perlu sekali menyetok ASIP.

Tubuh manusia ini begitu hebatnya sehingga produksi ASI bisa di-personalised sesuai dengan kebutuhan bayi. Saat newborn tubuh ibu memproduksi kolustrum, lalu seiring dengan waktu berubah menjadi mature milk untuk lebih memenuhi kebutuhan lemak, protein dan lain-lain. Di malam hari ASI mengandung serotonin yang membuat bayi rileks dan tertidur (wow!). Memasuki masa toddler, kuantitas ASI berkurang dan zat yang terkandung berfokus untuk menjaga sistem imun. Begitu pula saat anak sakit, ASI yang ibu berikan akan mengandung zat-zat yang berguna untuk melawan penyakit tersebut. Jadi bayangkan jika Anda menyetok ASI saat anak berusia 1 bulan, lalu diberikan saat anak sudah berusia 3 bulan. Kira-kira apakah cocok?

Terakhir, percayalah bahwa tubuh manusia sudah diciptakan sedemikian rupa untuk memberikan yang terbaik untuk keturunannya. Penuhi diri dengan sugesti positif. Kelilingi dirimu juga dengan support system; suami, keluarga, teman yang mendukung.

Sekian.

Lia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s