Pregnancy

My Birth Story: Anak Kedua Lahir di Waktu yang Tepat

Nak, lahirnya nunggu Ama datang dan sudah sampai di York ya. Kalimat ini berulang kali kugumamkan setiap kali merasakan tendangannya. 

Ibu hamil yang biasanya kalau sudah memasuki minggu-minggu terakhir kehamilan pasti ngbanyakin gerak. Induksi alami, supaya cepet lahirannya. Beda denganku, aku ngurangin gerak supaya si adek nggak lahir sebelum mama datang. Ya, mama(ku) bakal datang untuk membantu selama masa transisi, terutama untuk menjaga J saat aku lahiran. Datangnya di usia kehamilanku yang ke 37 minggu + 5 hari. Sedangkan si adek bisa aja lahir mulai usia kehamilan 36 minggu. Kalau J sih dulu 37 minggu + 6 hari. Dag dig dug kan ya. Apalagi aku harus ikutan jemput mama di London, makin dag dig dug lagi. Bisa-bisa lahiran di perjalanan kereta nih, atau di London. Atau atau atau…

Tiap hari ngitungin kalender mulu, dan kalau sudah tengah malam yang artinya sudah lewat 1 hari lega banget. “Terima kasih ya Tuhan, ternyata belum lahiran hari ini”. Begitu seterusnya sampai tiba waktunya kami harus menjemput mama di London. 2 jam perjalanan dari kota kami tinggal, York. Dan kami akan menginap semalam karena mama akan tiba besok pagi. Kenapa saya ikutan juga? Lah kalau misalnya saya ditinggal di York, lalu ternyata kontraksi malah nggak ada yang membantu kan ya? Cuma ada si little J aja. Apalagi riwayat lahiran sebelumnya yang tergolong cepat. Mendingan ikut, dengan resiko bisa kontraksi dan lahiran dimana aja. Kereta? London? Gila kan. Tapi yang penting ada suami hehehe.

Di hari mama sampai London, kami berkeliling ke landmark utama London. Sekalian kan ya, ntar kalau abis lahiran kapan lagi ke London. Masa kudu bawa bayi usia beberapa minggu. Ngebut lah kita dengan rencana setengah hari ke Buckingham Palace, Big Ben, London Eye………., eh tapi kok rasanya perut ini agak kram teratur ya. Itu tepat di London Eye, sebelahnya ada rumah sakit tuh. Makin dirasa-rasain makin kerasa. Udah konsisten 3 menit sekali. Hmm kalau di guidelinenya sih kalau sudah intens 3 menit sekali artinya waktunya ke rumah sakit. Tapi nggak sakit banget, cuma berasa aja. Saat itu jam 15.00.

Panik lah akhirnya ke rumah sakit itu. Pake kursi roda segala supaya nggak makin banyak gerak, takutnya malah ngelahirin sekarang juga. Mana nggak bawa barang bayi apapun kesini. Tujuan ke rumah sakit nih untuk cari tau apakah ini kontraksi dan minta saran bagaimana menurut para bidan kalau jam 19.30 kami akan naik kereta ke York, perjalanannya sekitar 2 jam. Dan dia bilang “I think you are too ambitious to go home tonight” sambil cekikikan. Meski saat dicek, belum ada pembukaan sama sekali. Katanya karena ini anak kedua, maka bakal lebih cepat. Apalagi si J lahirnya cepat juga. Suami sih mempercayai bidan, kita sempat berdiskusi panjang. Berkat kengeyelanku, aku memutuskan untuk pulang ke York dengan kereta sambil merasakan kontraksi ini. Because my instinct says so! Aku percaya si adek dengerin maminya, kalau lahir kudu nunggu Ama sampai York. Kalau sekarang kontraksi, berarti artinya akan lahir beberapa saat lagi, dan harus sampai York dulu. Bukan begitu nak??

Sambil jalan tertatih plus meringis, lega sekali kami akhirnya bisa duduk di kereta. Si J nampaknya sudah dapat sinyal-sinyal juga, selama di kereta dia minta dipangku terus. Mungkin dia tau sebentar lagi sudah bukan anak satu-satunya lagi. Makin dekat kota tempat kami tinggal kontraksinya makin hebat. Karena takut nggak kuat jalan, apalagi masih ada stroller dan 2 koper lainnya, akhirnya kami meminta bantuan provider kereta untuk menyediakan kursi roda di stasiun. Staff kereta semua bertanya, apakah aku mau langsung ke rumah sakit setelah turun. Tapi aku jawab “No, not yet. They will send me home, not very painful yet”. Yaiyalah, nyatanya aku masih bisa ngobrol. Itu tanda-tanda belum saatnya ke rumah sakit. Akhirnya kami pulang naik taxi.

Sesampainya di rumah, aku langsung menyiapkan hospital bag. Sambil bersibuk-sibuk ria, aku berusaha tetap bergerak untuk mengabaikan rasa sakit dengan cara menyetel musik dan ikut goyang. Masih bisa juga menemani J tidur seperti biasanya. Tidur malam yang penuh haru, karena sudah merasa malam itu bakal malam terakhir J jadi anak satu-satunya. Setelah dirasa-rasain ternyata frekuensi kontraksi berkurang. Sampai jam 3 subuh mulai capek, akhirnya aku tertidur. Dan baru sadar ternyata kalau aku tidak bergerak, kontraksinya tidak datang. Artinya si adek berhenti cari jalan keluar juga. Pagi-pagi bangun segar bugar dan pas di hari paskah, aku telepon rumah sakit untuk mengabarkan kontraksi yang aku dapat. Setelah itu kami berangkat ke gereja, naik taxi. Kami sekeluarga nggak mau melewatkan hari paskah tanpa ke gereja. Lagian sekalian supaya bergerak kan. Di gereja duduk sambil meringis. Tapi pulang dari gereja kami masih bisa ke pusat kota, jalan kaki sekitar 1 kilometer.

Sesampainya di rumah jam 2 siang, rasa sakitnya semakin hebat. Akhirnya aku mengurung diri di kamar, supaya bisa konsentrasi. Jam 5 sore air ketuban pecah duluan, sama seperti saat hamil pertama. Suami menelpon rumah sakit dan kami diminta segera datang. Saat itu menurutku sakitnya belum ada apa-apanya seperti saat akan melahirkan J. Suami pun agak enggan ke rumah sakit cepat-cepat, karena pengalaman kami disuruh pulang kembali. Tapi karena diminta segera dengan alasan ini adalah anak kedua. Kami pun memesan taxi dengan agak mengulur waktu. J sudah aman dan lengket bersama mama di rumah, puji Tuhan. Jam 6.15 kami sampai di rumah sakit, saat diperiksa ternyata…. sudah pembukaan 4. Artinya tidak perlu pulang lagi. Langsung ke ruang melahirkan. Wah! Rasanya seneng banget hamilnya mau berakhir dan akan segera ketemu si adek. Dalam keadaan kontraksi yang makin intens, aku berguling-guling dan bergoyang diatas tempat tidur. Rebahan bikin makin sakitnya berasa, itu pengalamanku saat melahirkan J dulu. Aku sudah memberi catatan kecil pada para bidan “I want to stay active during labour. Please support me”. Tak henti-hentinya aku menggerakkan badan meski sakitnya semakin hebat.

Di setiap sela kontraksi hanya satu hal yang aku pikirkan, si J gimana di rumah sama mama. Apa dia tidak cari-cari mamanya. Tapi kami selalu dapat update positif yang menenangkanku. Semuanya aman di rumah, tidak perlu mengkhawatirkan J. Fiuh.

Tidak pakai lama, kami akhirnya tiba di ruangan melahirkan. Saat itu aku masih bisa bercanda dengan suami. Saat sakitnya mulai serius, aku meminta pain killer Meptid. Nggak lama si bidan mulai menyuruh push push. Aku tentu nggak menghiraukannya. Mana mungkin si adek akan keluar secepat ini?!?!

Setelah suami bilang bahwa dia sudah bisa melihat kepalanya, aku baru merasa “wah ini beneran ya ternyata”. 2x mengejan akhirnya lahirlah anak kedua kami di hari paskah, seorang anak laki-laki.

Hormon oksitosin langsung merajai tubuhku. Rasanya bahagia sekali. Tidak henti-hentinya aku menghela nafas panjang dan tersenyum. Kali ini rasanya begitu damai dan bahagia. Tidak ada kekhawatiran.

Sambil menikmati masa menyusui pertama kali dan skin-to-skin momen, aku melahap toast legendaris dari rumah sakit. Ya, itu adalah makanan wajib para ibu yang baru saja melahirkan di Inggris.

Tapi tiba-tiba aku merasa tidak enak, pusing, ngantuk, dan…. muntah juga beberapa kali. Keluarlah semua isi perutku. Ternyata pain killernya baru saja bekerja. Aku tidak kuat menahan rasa ngantuknya. Fly. Oh oh!

Semuanya berjalan dengan cepat, total waktu kami selama berada di kamar bersalin, mulai masuk hingga si adek lahir adalah 52 menit. Tidak sampai 1 jam. Jelas saja jika pain killernya belum bekerja maksimal.

Tapi mulai saat itu, hatiku sungguh berbunga-bunga. 2 malam aku dan si adek menginap di rumah sakit. Kami mendapatkan waktu yang cukup untuk saling mengenal sebelum memperkenalkanya ke keseruan di rumah. Sempat mati gaya saat harus mengulang lagi mengurus newborn. Karena biasanya aku dituntut aktif dan cerewet saat bersama little J. Sekarang harus beralih menjadi kalem. Ah…. meski begitu seru sekali…

Terima kasih nak sudah menjadi anak penurut sedari di dalam perut. Lahir di waktu yang tepat, satu hari setelah Ama datang. Tidak di kota lain dan tidak juga di kereta. Lahir di usia kehamilan yang sama dengan kakakmu. Semoga kamu selalu menjadi anak penurut tapi juga bijaksana hingga kamu besar nanti. Amin.

Sekian.

Lia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s